Kemarin seorang teman berkunjung ke tempat saya. Karena dia adalah seorang pemilik dealer Yamaha, kami mengobrolkan banyak hal mengenai bisnis roda dua nya. Dia memiliki 1 dealer di wilayah luar Jawa. Wah, kebetulan banget nih, gue bakal dapet bocoran banyak banget nih pikir gue… Siapin peralatan dulu!!! He he he he
Hampir seluruh obrolannya berisi keluhan, bukan hanya mengenai semakin menurunnya profit yang diterimanya, namun terlebih juga mengenai Distribution Policy and Network Policy. Keluhan utama nya adalah pada saat penjualan sedang bagus2nya, supply di area nya sangat sedikit, sehingga semua dealer di area tersebut termasuk dealer nya hanya mendapat kurang dari setengah kemampuan jualnya, belum lagi lead time perjalanan dari Jakarta yang kadang molor karena kendala selama perjalanan. Namun, kenalan dia yang juga mempunyai dealer di wilayah pulau Jawa bahkan mempunyai stok berlebih, hingga terkadang rekan saya ini sampai membeli barang dari dealer temannya itu, bukan dari YIMM. Sesuatu yang sangat konyol menurut dia. Namun pada saat barang sedang meluber seperti akhir – akhir ini, dia bahkan sampai harus sewa gudang karena supply yg diberikan kepadanya “terlalu amat sangat berlebih”, dan jika dia tidak PROTES, maka barang akan terus ditumpuk ke dealernya. dia heran mengapa daerah nya selalu menjadi anak tiri. “Jadi, jualan Yamaha itu hanya untung saat barang kurang, kalau sudah seperti sekarang, jangankan profit asal tidak rugi aja sudah bagus. Kalau rugi lebih baik saya tutup saja”, katanya menumpahkan kekesalan.
Keluhan lain yang menurut saya paling penting adalah mengenai Network Management. Ketika saya bertanya kepadanya, apa yang orang-orang YIMM lakukan pada saat penjualan turun seperti ini? Secara spontan dan ketus dia menjawab, “mengurusi hal – hal sepele seperti orang kurang kerjaan. Mungkin sudah menyerah di dalam hati nya, jadi yang diurusi bukan lagi soal penjualan, tapi soal – soal sepele, hanya supaya kelihatan sibuk saja”. Teman gue ini adalah pebisnis yang cukup hebat, selain Yamaha dia juga mempunyai beberapa pabrik pengolahan plastik dan juga distributor utama untuk peralatan elektronik di area Indonesia timur. Secara kemampuan bisnis, beliau sudah tidak diragukan lagi. Jadi pernyataan beliau di atas bukan pernyataan seorang pebisnis amatir yang tidak bisa membedakan mana hal penting dalam bisnis dan mana hal – hal yang sepele .
Dia juga menambahkan bahwa YIMM sedang mengembangkan grup dealer, jadi dealer yang hanya punya 1 dealer seperti dia akan lebih dianak-tirikan dibandingkan dengan dealer Grup yang memiliki banyak dealer. “Bagaimana saya mau berinvestasi untuk membuka dealer lagi kalau cara kerja mereka sendiri masih seperti itu??”, Jawabnya sambil sedikit emosi.
Terakhir saya tanya, apakah dia tidak berangkat ke Jakarta? Karena status BBM teman saya dealer Yamaha yang lain “lagi otw Jakarta, ada meeting nasional Yamaha”. “Percuma, tidak ada gunanya.” Jawabnya singkat.
Itulah curhat dari salah seorang teman saya, semoga YIMM bisa berbenah diri, memperbaiki cara kerjanya, sehingga semakin berkurang dealer yang merasa tidak puas seperti teman saya yang satu ini. Bagaimanapun, selain produk, management dealer juga sangat penting karena dealer adalah pasukan garis depan YIMM.
Salam,
Tukang pipa
Sistem distribusinya perlu dibenahi. Dilihat supply dan demandnya. yang terakhir perlu di audit biar semakin di depan
btul skali… audit kinerja. coz SDM YImM n main dealer “?”
kemampuan sih ada… tp netralitas yg tnda tanya …
Betul Bro. Produk dan kepuasan konsumen memang no 1, tapi perbaikan dalam hal supply n demand yang sangat erat hubungannya dengan cashflow, serta network policy juga harus diperhatikan…
wah telat nich infonya bos.
dari zaman ymki sdh begitu koq, type2 yh laku alias fast moving saat market lg bagus, maka dealer DDS jadi prioritas utama, kalo lagi mandek kayak sekarang maka dealer non DDS bakal jadi tong sampah.
coba aja cek NVL banyakan di dealer mana? dds atau non dds?
mengenai dealer group, kayaknya gagal dech saat ini, salah satu group besar yg berhenti expand bahkan tutup beberapa dealernya adalah group arista dan adira.
ngak percaya, silakan cek ke petinggi mereka.
Betul Bro, seperti nya itu warisan sejak jaman YMKI, turun – temurun ampe skrg.
Dealer Grup yang dulu sangat dibanggakan adalah Mataram Sakti dan Arista, Bahkan ceritanya Mataram hendak ekspansi hingga ke Bali, tapi menurunnya penjualan Yamaha membuat Grup dealer ini terbelit di cashflow. Itu pun Mataram masih dibela dengan cara boleh membuka dealer dengan hanya sewa tempat, itu yang membuat dealer2 area lain protes karena mereka semua diharuskan memiliki tanah yang digunakan sebagai dealer. Begitu bocoran yang saya terima.
Lalu ada Grup Adira yang katanya mau buka 100 titik di Indonesia. Melihat kondisi Yamaha yang meluncur turun seperti roller coaster tentu saja Bp. Stanley berpikir ulang 100x
hahahahahaaaaa…..
betul sekali infonya bos.
arista bahkan batal expansi dan beralih menjadi dealer suzuki mobil, pas bener momennya ada ertiga dan katanya jauh lbh profit dibanding jadi dealer yamaha.
rencana group adira yg bakal buka 100 dealer, hehehehe….
yg sudah baru buka di sumatra aja pada tutup.
itu tanah dan bangunan mau dijual ngak ya ?
tambahan arista juga menjadi maindealer skutik italy
WOOooowwW Bocoran2 dari Ente emang Juossss Banget Brooo… Ha ha ha ha.
Wah lebih fokus di R4 donk… Profit lebih menjanjikan…
Skutik Italy lebih profit katanya Bro… He he he
Kalau tanah dan bangunan nya dijual Ane juga Bro, ane bakal cek ke lokasi… Siapa tahu cocok….Xixixixi
Ajiiibb…cuma ‘tukang pipa’ aja tp mampu beli properti…
hahahaha . . .
rasanya susah utk orang luar utk take over ex property dealer group adira.
rumornya bakal diambil alih oleh md jabar punya keluarga TP utk jaringan mereka.
apa bukan namanya menggali sumur utk musuh minum?
“menggali sumur utk musuh minum”. perumpamaan yang mantabbb.
Turut prihatin, Terutama informasi penumpukan suply.. ih ngeri pantesan sekarang DB tampak lesu cost sudah di depan mata penjualan
ada informasi terkini kondisi perusahaan dari sisi managerial atau keuangan?
sdh banyak sub dealer yg ngak tahan, begitu ada tawaran jadi subdealer honda, segera mereka samber.
bung tukang pipa pasti tau berapa jaringan subdealer yamaha yg membelot jadi subdealer honda.
He he he, ternyata Bro parasit juga tahu soal ini. Bukan hanya Honda Bro, bahkan beberapa dealer di daerah lebih memilih Suzuki dan rela melepas Yamaha.
Gue Confirm lagi, beberapa dealer di daerah lebih memilih Suzuki dan rela melepas Yamaha.
That’s business, and it is fair, isn’t it?
belum ada perbaikan di distribusi & tidak ada system yg untuk kontrol netralitas distribusi menyebabkan produk sehebat apapun tetap juga payah
walah pabrikan dah gak dipercaya sama dealernya ~ bencana tuh tanda2 kehancuran..